ISLAM YANG HAQIQi
Sejarah Tasawuf, Tokoh-Tokoh Sufi
Barangkali bagi kita yg menetap di
kawasan Asia Tenggara tak banyak mengenal wali besar kawasan Barat yg bernama
Abu Madyan tersebut, karena pengaruh Syekh Abdul Qadir Jailani yg hidup sezaman
dengannya lebih dominan di sini. Sesungguhnya Abu Madyan adalah salah satu
tokoh penting dalam sejarah Tasawuf yg membentuk lanskap ruhani di kawasan
maghribi.
Abu Madyan, yang diyakini menempati
peringat Qutb al-Awliya al-Ghauts al-Adhim, juga diakui sebagai Syaikh
al-Masyayikh (Gurunya para guru). Beliau hidup sezaman dengan Wali agung
lainnya, Syekh IBN ‘ARABI, dan bahkan Ibn Arabi berguru kepadanya secara
spiritual, karena keduanya tidak pernah bertemu secara fisik – tetapi Syekh Ibn
‘Arabi sempat menziarahi makamnya di Tlemcen. Syekh Abu Madyan ini juga
mempunyai murid lain yang kelak juga menjadi Qutub, Syekh ABDUS SALAM IBN
MASYISY, guru dari Syekh Abu Hasan Syadzili, pendiri tarekat Syadiziliyyah. Abu
Madyan boleh dikatakan telah membentuk kecenderungan utama aliran Tasawuf di
kawasan maghribi.
Syekh Abu Madyan pertama kali
dibaiat ke jalan Sufi oleh Syekh Abdullah al-Daqaq, seorang sufi eksentrik yang
sering berkeliaran di jalan-jalan dan berteriak mengaku-aku dirinya Wali Allah,
dan oleh Syekh Abu Hasan al-Salawi, seorang sufi misterius. Kepada Syekh
al-Daqqaq, seorang Wali Allah yang aneh dan luar biasa, Abu Madyan mendalami
kandungan kitab Tasawuf penting, ar-Risalah karya ABU AL-QASIM AL-QUSYAIRI.
Syekh Abu Madyan juga berteman dan berguru kepada Syekh AHMAD RIFA’I, seorang
Wali Qutub pendiri Tarekat Rifa’iyyah di Irak. Meski disebut2 ketenaran dan
signifikansinya sejajar dengan Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Abu Madyan
mengakui dan tunduk pada ucapan syatahat Syekh Abdul Qadir Jailani, “Kakiku
berada di atas bahu Awliya Allah” dan salah satu riwayat mengatakan beliau
menerima ijazah ruhaniah dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Melalui jalur Abu Madyan inilah di
kawasan maghribi muncul sufi-sufi besar yg menjadi poros2 utama kewalian di
kawasan maghribi dan sekitarnya. Syekh Ahmad Rifa’i, guru dari Syekh ABu
Madyan, juga dikenal sebagai sufi yg eksentrik. Tarekatnya dianggap agak aneh
karena cara zikirnya yang terdengar seperti meraung atau seperti suara gergaji.
Pengikut Tarekat Rifaiyyah belakangan lebih dikenal karena kekuatan dan
keajaiban-keajaiban mereka, seperti kebal senjata, kebal racun dan sebagainya.
Tentu saja, efek-efek ini menyebabkan tarekat ini rawan diselewengkan oleh
orang-orang yg tidak bertanggung jawba, sehingga sebagian sufi secara tegas
mengecam penyimpangan tersebut tersebut. Namun apapun penyelewengan itu, ajaran
dan amalan Syekh Ahmad Rifai sesungguhnya adalah amalan tarekat yang mu’tabar,
atau sesuai dengan Qur’an dan Sunnah Nabi.
Jadi pada periode sesudah Syekh ABu
Hamid al-Ghazali ini mulai berkembang bentuk baru organisasi tarekat yang
strukturnya lebih kompleks. Perkembangan ini barangkali adalah keniscayaan
sebab pada masa itu mulai banyak sekali orang Islam yg menempuh jalan ruhani
(tasawuf). Sebagaimana lazimnya sesuatu yang menjadi besar, selalu ada
penyimpangan-penyimpangan yg dilakukan oleh sufi-sufi palsu. Karenanya,
sebagian syekh Sufi merasa perlu “melembagakan” ajarannya dalam satu wadah di
mana otoritas mursyid yg kamil-mukammil bertindak sebagai pembimbing sekaligus
penjaga agar pengikut mereka tidak menyeleweng. Tetapi itu bukan berarti bahwa
sufi-sufi yang berada di luar organisasi tarekat tidak menjalankan amalan
tarekat – sebab tarekat dalam pengertian yg lebih umum adalah “Jalan” ruhani
itu sendiri.
Apapun efeknya, organisasi tarekat
telah membuka kesempatan baru bagi orang-orang Islam yang tidak menemukan akses
ke wali-wali Allah yg biasanya tersembunyi. Kemunculan wali-wali masyhur di dalam
organisasi tarekat menambah semarak perkembangan keruhanian Islam. Sebagian
dari alasan meningkatnya popularitas tarekat paada saat itu adalah karena
kondisi sosial politik di dunia ISlam sedang mengalami pergolakan hebat,
setelah pasukan Salib mulai merangsek ke wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam.
Banyak murshid-murshid tarekat dan sufi-sufi individual yg terlibat langsung
dalam peperangan itu. Syekh Abu Madyan, misalnya, ikut membantu perang melawan
tentara Salin dari kelompok pasukan Perancis di sekitar Maroko, dan berperan
penting dalam kemenangan pasukan Islam di sana. Kaum sufi, baik di dalam dan di
luar organisasi tarekat, berdasar fakta sejarah sesungguhnya berperan penting
dalam pengembangan potensi ekonomi, sosial, poliitk dan ilmu pengetahuan di
dalam peradaban Islam. Namun peran sosial mereka yg penting itu sering
terlupakan, atau sengaja disembunyikan oleh kelompok anti-Tasawuf – terutama
karena kebanyakan pengikut tarekat atau sufi yang terkenal lebih menonjol dalam
bidang keruhanian dan lebih ketat dalam menjalani kehidupan yg zuhud, serta
karena karamah-karamah mereka lebih memikat untuk dikisahkan ketimbang peran
ekononi dan sosial-politik mereka.Peran-peran sosial atau peran “horisontal”
mereka semakin jelas dalam perkembangan sesudah tahun 1100-an M.
Selain perkembangan tarekat-tarekat,
dunia Tasawuf juga diwarnai oleh perkembangan pemikiran mistis/makrifat yang
luar biasa. Periode menjelang abad 13 M, atau akhir era 1100-an adalah era di
mana hampir semua bidang peradaban Islam sedang mengalami kejayaan sekaligus
melahirkan benih-benih bayang-bayang kesuraman peradaban Islam. Kemajuan sisi
lahiriah di bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan sebagainya diimbangi
oleh lahirnya kemajuan ruhani. Namun pada masa ini perkembangan paling menonjol
selain tarekat adalahmunculnya sufi-sufi besar yang menulis literatur yang
“abadi,” yang sangat memengaruhi dunia Tasawuf dan dunia Islam pada umumnya
sampai ke abad 21 – dan barangkali akan masih terus berpengaruh hingga di
abad-abad mendatang. Tokoh-tokoh sufi yang agung pada periode ini antara lain
Fariduddin Attar (wafat 1220), Ibn al-Farid sang penyair mistis (wafat 1235),
Syekh Akbar Ibn Arabi, penggagas “konsep” wahdatul wujud, Jalaluddin Rumi sang
penyair cinta mistis terbesar sepanjang sejarah Islam (w. 1273) dan al-Iraqi,
penyair penerus tradisi wahdatul wujud.
Pada tanggal 28 Juli 1165 lahirlah
seorang anak manusia yang kemudian dikenal sebagai Muhammad ibn Ali ibn
Muhammad ibn al Arabi al Ta’i al Hatimi atau lebih populer dengan nama Ibn
Arabi. Beliau dikemudian hari lebih dikenal sebagai seoarang sufi dari
andalusia, dan diberi gelar Muhyidin (Penghidup agama) dan Syaikh al Akbar
(Syaikh Agung). Karya karya yang lahir darinya terutama dari dua kitabnya yang
monumental Fushush al Hikam dan Futuhat al Makkiyyah telah mempengaruhi sudut
pandang kaum muslimin dalam memahami agamanya, yang diridhai Allah (Islam).
Pemikiran Ibn Arabi adalah pemikiran yang telah mempengaruhi salah satu cara
pandang kita dalam melihat otosentisitas Islam (Tauhid).
Gagasan gagasan dasar ajaran Ibn
Arabi telah menimbulkan reaksi yang luas di kalangan kaum muslimin, yang pro
maupun yang kontra. Yang tidak setuju menuduh bahwa ajarannya merupakan
panteisme. Yang pro justru menganggap ajaran ini merupakan ajaran yang tinggi
dan sangat radikal dalam interpretasinya mengenai tauhid. Ibn Arabi lebih
dikenal sebagai tokoh ajaran wahdatul wujud, yang sering disalah tafsirkan
sebagai ajaran yang menekankan pada aspek imanensi mutlak Tuhan.
Namun sesungguhnya Ibn Arabi tidak
menekankan imanensi Tuhan semata, namun juga transendensi-Nya. Menurut beliau:
dilihat dari sisi tasybih, Tuhan adalah identik, atau lebih tepat seruap dan
satu dengan alam walaupun kedua duanya tidak setara karena Dia, melalui nama
nama Nya, menampakkan diri Nya dalam alam. Tetapi dilihat dari sisi tanzih,
Tuhan berbeda sama sekali dengan alam karena Dia adalah Dzat Mutlak yang tidak
terbatas, di luar alam nisbi yang terbatas. Ide ini dirumuskan oleh ibn Arabi
dengan ungkapan singkat ‘huwa la huwa’. Tuhan adalah imanen (tasybih) dan
transenden (tanzih) sekaligus.
Dalam doktrin wahdat al wujud Tuhan
betul betul esa karena tidak ada wujud, yaitu wujud hakiki kecuali Tuhan; wujud
hanya milik Tuhan. Alam tidak lebih dari penampakan Nya. Doktrin ini mengakui hanya
satu wujud atau realitas karena mengakui dua jenis wujud atau realitas yang
sama sekali independen berarti memberikan tempat kepada syirik atau politeisme.
Doktrin wahdat al wujud ibn Arabi mempunyai posisi yang kuat karena didukung
oleh atau bersumber dari ayat ayat Al Qur’an dan Hadis Nabi saw.
Wahdat al Wujud Menurut Syaikh Akbar
Ibnu al Arabi benar benar merupakan pemikiran genius di zamannya. Karya
karyanya telah membuktikan hal itu. Ibn al Arabi mengungkapkan ajaran ajaran
dan berbagai pandangan genarasi sufi yang mendahuluinya secara sistematis dan
rinci. Ibn Arabi adalah jembatan atau penghubung antar dua fase historis Islam
dan tasawuf dan penghubung antara tasawuf Barat dan Timur.
Menurut Ibn Arabi, dalam hadis
Qudsi, Allah berfirman, Aku adalah harta simpanan tersembunyi, karena itu Aku
rindu untuk dikenal. Maka aku ciptakan makhluk, sehingga melalui Ku mereka
mengenal Ku. [hadits Qudsi] Allah adalah “harta simpanan tersembunyi” (kanz
makhfiyan), yang tidak dapat dikenal kecuali melalui alam. Maka alam adalah
cermin bagi Tuhan, yang dengannya Ia mengenal dan memperkenalkan ‘Wajah Nya’.
Kanz makhfi, dengan demikian adalah ‘Yang ‘Tersembunyi dari Yang Tersembunyi’,
Dzaat, yang tidak dapat dijangkau oleh siapapun ditinjau dari segi Dzaat Nya.
Misteri Dzaat, yang tersembunyi ini berakibat “kerinduan” dan “kesepian”. Dalam
“kerinduan” dan “kesepian” primordial ini membuat Dia rindu untuk dikenal. Maka
Ia pun ber ‘tajalli’. Tajalli Al Haqq adalah penampakan diri Nya dengan
menciptakan alam. Tajalli Al Haqq terjadi dalam bentuk bentuk yang tidak
terbatas jumlahnya. Alam berubah setiap saat, terus menerus tanpa henti. Setiap
waktu Dia dalam kesibukan (Q.S.55;29). Seperti yang dikatakan oleh Ibn Arabi;
“Sesungguhnya Allah Subhanahu selama lamanya tidak melakukan tajalli dalam satu
bentuk bagi dua individu atau pribadi, dan tidak pula dalam satu bentuk dua
kali.”
Tajalli Nya adalah pemberian Nya
yang telah ditetapkan sejak Azali, persis seperti yang ada dalam A’yan
tsabitah, Pengetahuan Abadi dalam Hakikat Tuhan. Jadi hakikat yang sebenarnya
dari setiap segala sesuatu yang berasal dari tajaliyyat Nya selalu ada, yakni
dari dalam kedalaman batin Wujud Nya (Potensi Abadi Nya), yang merupakan Ilmu
Nya (pengetahuan Nya) yang tetap dan abadi (a’yan tsabitah). Dari sudut padang
ini, dunia pada hakekatnya merupakan perwujudan (manifestasi) Tuhan, namun
dalam Diri Nya, yakni dalam Dzat Nya, Dia terlepas dari setiap perwujudan itu
sendiri. A’yan tsabitah pada dasarnya hanyalah potensi abadi yang karena
sifatnya itu ia bisa menjadi aktual atau bisa juga tidak. Karenanya,
‘Kemungkinan’ (Potensialitas) itulah yang sesungguhnya nyata. Dan karena
itulah, a’yan tsabita tetap tidak berubah dan “tidak ada” secara aktual dalam
ilmu Tuhan. Meskipun disifati dengan kepermanenan, ia tidak disifati dengan
wujud, yakni ia tetap dalam keadaan yang disifati dengan ketiadaan yang
dimiliki oleh yang mungkin, bukan oleh yang tidak mungkin. Jadi, A’yan tsabita,
dalam ketiadaannya siap menerima wujud. (Fusus al Hikam). Dalam Futuhat al Makiyyah
mengenai hal ini dikatakan:
Ilmu Al Haqq tentang Diri Nya sama
dengan ilmu Nya tentang alam karena alam selama lamanya disaksikan Nya,
meskipun alam disifati dengan ketiadaan. Sedangkan alam tidak disaksikan oleh
dirinya [sendiri] karena ia tidak ada. Ini adalah lautan tempat binasanya para
pemikir teoritis, yaitu orang orang yang tidak diberi kasyaf. Diri Nya selama
lamanya ada, maka ilmu Nya selama lamanya ada pula. Ilmu Nya tentang Diri Nya
adalah ilmu Nya tentang alam;karena itu ilmu Nya tentang alam selama lamanya
ada. Jadi Dia mengetahui alam dalam ketiadaannya. Dia mewujudkan alam menurut
bentuk Nya dalam ilmu Nya. Karena itu, alam tidak pernah ada ‘diluar’ Tuhan
yakni; tidak ada dalam wujud kecuali Allah dan sifat sifat dari a’yan, dan
tidak ada sesuatu pun dalam adam [ketiadaan] kecuali entitas entitas mumkinat
(kemungkinan) yang dipersiapkan untuk diberi wujud. (Futuhat)
Dengan demikian, alam semesta dan
semua yang terkandung di dalamnya adalah wujud, dan pada saat yang sama adalah
tak berwujud (adum). Dengan cara yang sama, Tuhan selalu meliputi alam dan juga
mengatasi alam. Dia sekaligus transenden dan imanen, tanzih dan tasybih,
seperti yang dikatakan oleh Ibn Arabi sendiri:
Allah Ta’ala berfirman, Laysa
kamitslihi bi syai, maka dengan demikian Dia menyatakan Tanzih Nya; wa huwa al
sami’al bashir, maka dengan demikian Dia menyatakan Tasybih Nya.
Gaung gagasan Ibn Arabi melampaui
batas-batas geografis dunia Islam. Gagasannya dengan cepat menyebar dari Afrika
sampai ke anak benua India, kemudian masuk ke Asia Tenggara, termasuk ke
Indonesia. Sebagian pengikut Ibn ‘Arabi di era yg lebih modern menyebarkannya
ke Eropa dan Amerika, hingga ke Amerika Selatan dan Amerika Latin. Di Inggris
didirikan Ibn Arabi Society, yang berpusat di Oxford. Sebelumnya, Rauf dari
Turki mendirikan Beshara, dan Rauf sendiri menerjemahkan sebagian karya Ibn
Arabi, terutama Fusush al-Hikam ke dalam bahasa Inggris.
Selain memengaruhi kajian
spiritualitas Islam, gagasan Ibn Arabi juga memengaruhi filsafat Islam pada
umumnya, seni Islam (arsitektur, musik, dan sastra) dan sebagainya. Salah satu
contoh luar biasa dari penerapan gagasan kosmologi mistis Ibn Arabi ke dalam
wilayah aristektur adalah bangunan Taj Mahal di India. Bangunan indah ini
dibangun berdasarkan prinsip keselarasan geometris struktur kosmos ruhani dan
makrokosmos lahiriah dan perhitungan astronomi yang rumit.